Pages

semati-matinya mati

11 June, 2013

"Bodoh. Kau bisa mati saat itu."

"Maksudmu,.. jantung berhenti berdetak?"


"Iya. Kamu akan mati kalau kau terus-terusan membiarkan orang lain menyakitimu."

"Kau itu tidak sepintar yang aku kira."

"Maksud kamu apa?"

"Kau tidak mengerti mati yang sebenarnya."
.......


"Jadi menurutmu, kamu lebih mengerti tentang mati?"

"Ditembak dengan pistol tepat di jantung, melompat ke jurang, urat nadi dipotong, atau tubuhmu dibakar sampai diracuni. Apakah kau benar-benar mati dengan itu semua?"

..............

"Ya. Tentu saja itu semua bisa membuatmu mati. Mati seketika!"

"Bukan. Bukan hal semacam itu yang membuat seseorang mati. Kita akan mati ketika tak ada lagi yang membutuhkan keberadaan kita. Tak ada lagi yang merindukan. Tak ada lagi yang mengingat walaupun hanya sekedar nama atau diberi ucapan selamat hari raya. Kita akan mati ketika tak ada lagi dalam ingatan siapapun. Terlupakan."


"Terlupakan lebih menyedihkan daripada terabaikan."


"Jangan curhat. Menjengkelkan!"


"Hahaha. Kamu terlalu sentimentil seperti biasa! Kamu sudah pernah mati?"




"Selama kau ada, bagaimana mungkin aku bisa mati."

.
.
.
____
Sebut saja kita ini dua orang pelawak gila. Mengingat mati seperti menunggu makanan yang tiap hari kita santap di meja makan. Tak pernah benar-benar kenyang dengan jamuan itu. Selalu kelaparan dan bertanya-tanya bagaimana semua ini akan berakhir. Mungkin sampai kita benar-benar mati. Sampai tak ada lagi yang perlu dipertanyakan dan yang tersisa hanyalah jawaban yang paling jujur.

18 comments:

  1. Kalau mati jangan sekarang! Tunggulah bersamaku. Jangan biarkan aku menyusulmu di sana. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. beh.. hha

      tunggu waktunya gitu ya, bro.

      Delete
  2. Jadi, kau masih ingin benar-benar mati? lupakanlah, kita sedang memakannya sekarang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah :)

      jangan buru-buru dihabisin mbak.

      Delete
  3. masih tetap ingin mati??? bangkit dari mati itu :)

    ReplyDelete
  4. kita tidak akan mati karna mereka masih di sini, mengolok-olok, menertawai, menikmati tingkah bodoh bersama. :)

    Salam kenal, salam Bloofers! follow back my blog bro.

    ReplyDelete
  5. Lama tak berkunjung
    Tulisan mas uchank Masih menyentil seperti biasa...
    :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahah. bisa saja.
      terima kasih mbak runa.

      Delete
  6. Replies
    1. "Selama kau ada, bagaimana mungkin aku bisa mati."

      jadi,

      "Kalau tidak ada mko, mati ma." hahahaha (>__<)

      Delete
    2. interpretasinya beda. hha

      hahaha, tapi ndak apa. saya menyerahkan sepenuhnya kepada pembaca memaknai tulisan saya yang random begini.

      Delete
  7. Ah, ya... Saat berada di rumah orang-orang mati, kita merasa hidup sendiri. Padahal mereka dalam kematiannya seakan berkata; "Rupanya, kamu belum juga dibangkitkan"

    Salam kenal Mas Uchank, tulisannya sangar! ^^

    ReplyDelete
  8. kutunggu di pintu neraka :D

    btw slm kenal & follback

    ReplyDelete
  9. setuju banget,
    kita akan mati jika sudah tidak ada yang kita harapkan dan tidak ada yang mengingat atau membutuhkan kita. Kita akan menjadi manusia terabaikan.

    ReplyDelete
  10. tentang dua orang yang mendendangkan elegy kematian. Sepertinya kriuk-kriuk sekali di lidah mereka ya? :D

    ReplyDelete
  11. Terlupakan memang seperti mati. Mati yang paling menyedihkan :(
    BLOGWALKING kesini lagiiiiiiii setelah sekian lama vakum x)

    ReplyDelete

speak up!