Pages

sepayung hujan

19 October, 2012


Sejak umur sepuluh tahun saya punya pertanyaan aneh. Kenapa hujan selalu datang bersama berita duka atau kematian? Ya, saya tidak tahu kebetulan macam apa itu. Ketika ada seseorang yang meninggal di sekitar saya, hujan selalu menyapu. Di pekuburan atau di rumah duka, entah dia lebat atau hanya gerimis. Bau udara lembab yang diaduk dengan tanah, daun-daun basah, denting di atas genteng. Dan saya masih pada pertanyaan yang sama setelah semua hal itu membias.

Hujan dengan suasana berkabung adalah yang paling saya benci. Kenapa Tuhan menurunkan hujan melankolis itu ketika lambaian tangan menjadi lebih pahit dari obat dokter yang berwajah masam? Saya benar-benar bingung. Apakah air mata dari yang orang-orang yang ditinggalkan memuai dan membentuk awan secepat kilat? Ataukah, hujan adalah sapu tangan langit untuk orang-orang yang kehilangan? Hujan masih terus menyapu saat tanda tanya mulai menyerbu bak serdadu di dalam kepala ini.

Sekarang, saya menjadi terbiasa dengan hujan seperti itu. Ketika langit begitu terang, awan semanis susu, dan angin begitu damai mengibas semuanya, lalu tiba-tiba saja turun hujan. Tanpa diharap, tanpa diminta atau tanpa ada yang menjemput rindunya. Saya pasti akan bergumam dalam hati, “innalilllahi, hujan berkabung.” Semuanya basah. Hati orang-orang yang tinggal dalam kenangan tak terkecuali.

Ada orang yang pernah bilang, “hujan mampu meresonansikan ingatan ataupun kenangan.” Ya, mungkin itu alasannya. Karenanya tiap hujan turun, orang yang punya kepekaan terhadap hidup akan terpanggil. Mereka tiba-tiba saja merindukan sesuatu. Ingatannya sedang diaduk dalam cawan hujan. Itu mungkin jawaban yang tepat untuk pertanyaan yang mengapung dalam pikiran saya sejak umur sepuluh tahun.

Hujan tidak datang untuk kematian, tapi ia datang untuk membunuh kerinduan orang-orang. Bedanya, ada pada apa yang hilang di dalamnya.

Hujan hanyalah alat perekam yang tak punya tombol play ataupun stop. Ia hanya punya tombol repeat untuk setiap orang yang punya kenangan tentang pertemuan, lambaian tangan, atau sekedar bahasa punggung yang tak pernah kita pelajari tapi sangat kita mengerti. Ah, iya, ternyata ini tidak serumit saat saya masih kecil dulu.

Tapi tidak, saya tidak ingin menyudutkan hujan seperti itu. Menjadikannya hal yang membuat hati orang-orang menjadi terluka karena kenangan. Sungguh, hujan tak pernah seburuk dan sejahat itu. Karenanya, masih ada orang-orang yang merindukan hujan lebih dari awan sebagai rumahnya sendiri. Petani, anak-anak kecil, pujangga tua, sepasang kekasih, dan, ah, tentu saja payung yang berkarat di belakang pintu.

Tak masalah hujan membawa sekeranjang pelangi atau tidak. Tak masalah hujan membawa segelas air bah atau tidak. Hujan tetap saja hujan. Dan payung yang tersungkur di belakang pintu tetap saja payung yang merindukan hujan lebih dari apapun. Hujan adalah alasan kenapa ia ada. Manusia, mungkin sesederhana itu juga ketika menemukan alasan kenapa dia ada.

Aku harap hujan-Mu kali ini menggenang di hati mereka yang tandus karena kemarau.

pict from here

15 comments:

  1. Selalu senang membaca tentang hujan, karena ada Matar di sana. Tak dipungkiri, hujan membuat saya mengenang, tapi saya lebih suka memikirkan masa depan, bentuk hujan selalu sama, tapi masa depan siapa yang tahu. Mengapa tak menyapa hujan dengan rencana dan kemungkinan-kemungkinan baru?

    ReplyDelete
  2. Dulu saya juga sering berpikir kala hujan turun, "Manusia yang mengikuti suasana langit, ataukah langit yang mengikuti suasana hati manusia?"

    Ah, tapi apapun itu sekarang saya tidak peduli. Karena saya tidak membutuhkan sedikitpun alasan untuk mencintainya. :D

    ReplyDelete
  3. Bila aku sedang jauh dari tempat tinggalku dan saat itu aku sedang di tempat lain yang jauh dari tempat tinggalku. Saat hujan turun mengingatkanku sama tempat tinggalku -__-

    ReplyDelete
  4. bagus banget tulisannya, *berkaca-kaca,

    ReplyDelete
  5. err~ masih tetap membuat gerimis dihatiku turun..
    hujan bagiku bukan hanya sekedar hujan.

    aku merindukan hujan lebih dari pada payung berkarat di belakang pintu.

    aku menjadi aku karena hujan.

    ReplyDelete
  6. Hujan adalah alasan kenapa ia ada. Manusia, mungkin sesederhana itu juga ketika menemukan alasan kenapa dia ada.

    hmmsuka sekali untuk dua kalimat ini :)

    ReplyDelete
  7. Aku suka tiap tetes-tetes diawal hujan.. aroma tanah akan sangat terasa.... aku juga suka diakhir hujan.. Pelangi yaah.. pelangi, ;D

    ReplyDelete
  8. Hujan itu selalu membawa damai dihati siapa saja. Mereka yang berteduh, mereka yang berbasah-basah, meski dimulut mereka mengeluh, tapi dalah hati paling dalam, ada damai.
    Begitulah hujan...

    ReplyDelete
  9. Jadi tersadar, mungkin ini yang mendasari rasa tidak suka saya sama hujan. Terkadang merefleksikan sesuatu yang sebenarnya ingin dilupakan

    ReplyDelete
  10. manis...

    belum pernah merasakan hujan sebegini indahnya:)

    ReplyDelete
  11. aku kok rasanya menghayati betul payung berkarat di belakang pintu yang merindui hujan itu hehehe

    ReplyDelete
  12. rindu membaca tulisanmu.. sudah lama rasanya. . .
    hola :P
    jujur membaca sepayung hujan tepat sehabis berhujan-hujan ria membuat tulisan kamu semakin menyentuh,,
    always love u'r post...;)

    ReplyDelete
  13. Hai ka, Apa kabar?
    lama gak bersua, hihi
    tulisan tentang hujan memang selalu menyentuh :')
    keep writting ka ^^

    ReplyDelete

speak up!