Pages

capung dalam toples

05 September, 2012


Beginilah ia musim kemarau. Tak ada hujan ataupun gerimis yang berani menyapa hanya untuk sekedar basa-basi. Capung-capung bermigrasi dari tempat yang tak pernah kita ketahui. Apakah mereka datang memeluk kunang-kunang karena takut gelap di malam hari, atau mungkin juga mereka penumpang gelap di punggung kura-kura tua saat kelelahan.

Aku ingat pernah mengunjungi masa kecilmu. Dalam sebuah mimpi yang kutahu itu bukanlah bunga tidur saat aku bosan dengan dunia nyata. Rambutmu yang sebahu dikepang dua dengan ikat rambut yang terbuat dari rumput yang kau ambil dari taman. Kau memakai baju putih dengan gambar bunga matahari, celana hitammu terlihat kotor karena lumpur. Tak jauh dari taman itu ada sawah dengan padi yang menguning. Para petani memakai masker yang kita suka, senyum bahagia.

Aku menarik tanganmu yang mungil, kau pun menyambutnya dengan baik. Kita kemudian berlari mengejar capung-capung yang bergumul di pematang sawah. Itu sore yang jingga. Kita hampir tertipu dengan gradasi warna yang muncul di sawah itu. Apakah langit yang berwarna kuning kemerahan itu memantulkan warna padi, ataukah sebaliknya? Katamu, langit sore itu terlalu banyak makan buah jeruk. Kita yang begitu polos hanya tertawa saat itu.

Kemudian ada seekor capung yang terlihat berbeda dengan lainnya. Capung yang berwarna pelangi. Kepalanya berwarna merah dengan mata yang cukup besar dengan bintik-bintik biru. Sayapnya tak kalah indah dengan sayap kupu-kupu. Kau menyuruhku menangkapnya karena sangat suka dengan capung itu. Pikirmu, itu adalah capung ajaib yang selalu diceritakan ibumu sebelum tidur.

Aku mengendap-endap persis seekor singa yang sedang mengintai mangsanya. Siap menerkam. Kau terus mengikuti dari belakang.
"Ayo, cepat tangkap nanti keburu kabur." katamu begitu riang.
"Pssstt..jangan terlalu keras, kita harus sabar." kataku sedikit ketus. Kau baru saja menggangu konsentrasiku mengintai pergerakan mangsa kita.

Jarak kita dengan capung itu tinggal dua langkah lagi. Aku menjulurkan tangan dengan khidmat. Angin berhenti bertiup. Suasananya tiba-tiba menjadi sangat hening. Sejengkal lagi capung itu akan kulumat, dan,.. hap! Aku mendapatkannya. Kau meloncat kegirangan sambil menarik-narik bajuku. Aku hanya tersenyum melihat wajahmu seperti itu.

Kau mengambil toples kaca dari dalam tasmu dan memasukkan capung pelangi itu. Aku tak bisa lupa dengan wajahmu itu. Perasaan senang, bahagia, haru dan puas bergumul di sana. Tapi sayangnya beberapa menit lagi matahari akan tertidur di balik bukit. Langit jeruk kita akan habis. Kita berjalan pulang ke rumah sambil menyanyikan lagu anak-anak yang sering kita dengar di radio sepanjang jalan.

Di tengah perjalanan kau tiba-tiba saja berhenti. Menatap lekat capung pelangi di dalam toples kaca itu.
"Capungnya terlihat sedih, warnanya sepertinya luntur." katamu sedih.
"Kalau begitu lepaskan saja, sepertinya ia tidak suka toples kecil itu." kataku.

***
Tiba-tiba semua menjadi gelap kemudian disusul hujan cahaya dari jauh, aku kembali ke tubuhku yang dewasa. Duduk di sebuah kursi malas di ruang tamu sambil menatap hangat lampu yang menggantung. Aku tak tahu apa yang kau lakukan dengan capung warna-warni yang pernah kita tangkap. Apakah kau memilih memuaskan matamu atau mendamaikan hatimu itu.

Katamu, kau rindu masa kecilmu yang seperti itu. Di mana kau bisa bermain sepuasnya tanpa peduli dengan topeng-topeng dunia. Tak peduli dengan rasa kecewa, benci, duka, sedih, kesepian atau hal-hal memuakkan lainnya. Kita tak tahu dan tak mau tahu semua itu. Kita hanyalah dua orang sedang terperangkap di dalam toples kaca yang sama. Menunggu terbebas dari semua ini.

Nb: Kemarin saya lewat di taman yang pernah kita kunjungi dalam mimpi, di sana ada kuburan nenek moyang capung. Banyak capung warna-warni yang mengelilinginya.

*pict.from here

32 comments:

  1. hmmm... masih berusaha mencari arti dari si capung pelangi...

    kasih clue, dong.. :D

    ReplyDelete
  2. just wondering, how old are you? baca 3 artikel dari blog ini semuanya memiliki kesan dalem banget dan pemilihan diksi yang apik...you've got one more follower..

    ReplyDelete
  3. argghhh ... aku jadi teringat ingatan puluh tahun lalu .... saat aku berlibur ke madura, aku menangkap capung dengan kakak sepupuku ... rasanya senang sekali ... padahal tidak ada yang istimewa jika aku inget lagi sekarang kejadian itu, tapi entah kenapa begitu membekas capung2 itu di ingatanku

    ReplyDelete
  4. capung pelangi...jadi ingat kupu-kupu monarch :)

    trus...
    'Kita hanyalah dua orang sedang terperangkap di dalam toples kaca yang sama. Menunggu terbebas dari semua ini.' --> mungkin harus ada orang lain yg membukakan toplesnya.

    ReplyDelete
  5. Ga kuat kalo ga komen. Ga bisaaaaa, ga bisa kalo engga bilang ini tuh tulisan yang indah!
    Uchank, makin hari makin indah saja tulisan mu. Kagum.
    Suka sama kata2 terakhirnya: "Kita hanyalah dua orang sedang terperangkap di dalam toples kaca yang sama. Menunggu terbebas dari semua ini."

    Mengingatkan saya juga pada masa kecil yang sederhana. Tertawa, bahagia dengan cara yang sederhana tapi teramat indah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. setujuuuuuuu.... :D

      masa kecil emang sulit di lupain. langit jeruk boleh juga ;D

      Delete
  6. hayow..
    siapa tuh?
    siapa hayow?

    kayak di pilm pilm india ya?

    ReplyDelete
  7. capung, sawah, ikatan rambut, bunga matahari, menangkap capung. Semua ada di buku diaryku.

    ReplyDelete
  8. Langit Jeruk? Hmm.. bolehlah. :D

    Tenanglah. Capung-capung yang engkau lepaskan akan mencipta percakapan bersama alam. Merayu alam, untuk mengulurkan tangan-tangannya, untuk membuka toples yang memerangkap.
    Nah,sekarang kembali ke jenis capung yang engkau lepaskan, bukan? ;)

    ReplyDelete
  9. lagi lagi..

    ada hal yang baru yang saya dapatkan : langit jeruk, capung pelangi.. kckckc.. :)

    ReplyDelete
  10. Langit jerukk.. Hahaha.. Rasanya bisa mengimbangi keindahan kata 'jingga', bolehlah sekali-sekali dipergunakan :D

    Heiyy,. Apakah selamanya kepuasan mata itu berlawanan dengan kedamaian hati...? Hmmmmm...

    ReplyDelete
  11. kalau langitnya mau warna ungu, harus makan buah apa Chank? :D

    ReplyDelete
  12. Kunjungan pertama di blog ini dan langsung terpikat dengan gaya penulisannya~
    sa follow ya ^^

    Waktu kecil aku suka menangkap capung. Mengamatinya, menikmati keindahannya, lalu melepaskannya. Aku paling senang jika berhasil menangkap capung besar yang berwarna merah, menurutku itu capung terindah di dunia ^^ Sayang, sekarang capung telah sangat jarang kulihat beterbangan, yang banyak nyamuk u.u

    ReplyDelete
  13. perlu konsentrasi tinggi untuk bisa memaknai untaian kata-katamu sob... :)

    ReplyDelete
  14. nice post :)
    ditunggu kunjungan baliknya yaah ,

    ReplyDelete
  15. kalau kamu capung dalam toples, saya kura-kura dalam perahu.

    ReplyDelete
  16. maaf baru bisa mampir ke sini lagi..
    wah iya, ternyata kau juga pemelihara awan.

    hahaha sangat suka dengan langit jeruk dan capung pelanginya.
    dan awalnya masih memerlukan sepersekian detik untuk memutar otak mencerna kalimat Nb-nya.
    "...kuburan nenek moyang capung. Banyak capung warna-warni yang mengelilinginya..."

    ReplyDelete
  17. tulisanmu so sweet chank... :_)

    ReplyDelete
  18. wah, ajari saya menulis semanis ini :D

    ReplyDelete
  19. memories tentang capung bisa melahirkan karya tulis yang begitu indah...luarbiasa :)

    ReplyDelete
  20. mas uchank itu...

    u,u tulisannya bagus2 :3

    kayak penulis siapa ya, yang kalau nulis cerita diksinya kuat. lupa namanya tp hehe

    ReplyDelete
  21. aduh... luar biasa keren...
    spechless kalo udah baca tulisan uchank..

    aku jadi merindukan masa kecil yang penuh dengan kebebasan dan tidak terbebani dg urusan dunia

    ReplyDelete
  22. capung bergumul itu maksdx capungx lg kawin ya.. *smile

    ReplyDelete
  23. komen2nya bener dah. makin matang tulisanmu ee

    #sepertinya mesti berpikir untuk pindah jurusan lagi chank. hihihi

    ReplyDelete
  24. Banyak yang komen soal langit jeruk. Menurut saya, itu bukan sekedar unik, tapi nyawa dari cerita masa kecil, juga alam mimpi ada di situ. Langitnya berwarna kuning kemerahan karena makaan buah jeruk. Buat saya itu adalah imajinasi anak2 yg suka menyimbolkan warna dengan obyek yg khas. Misalnya kuning kemerahan itu jeruk, merah itu apel, dsb. Dia jg menyentuh dunia mimpi, ada capung pelangi, gak tau deh kalo di dunia nyata emang bener ada, tapi buat saya capung pelangi dan langit jeruk adalah semiotika yg kuat untuk masa kecil dan mimpi.

    ReplyDelete
  25. oya mas, ada award buat mas uchank http://rakyanwidhowati.blogspot.com/2012/09/liebster-award.html :)

    ReplyDelete
  26. wah maaf ya mas saya ninggalin link, takutnya mas uchank nggak tau awardnya :)

    ReplyDelete
  27. aku suka nih sama blognya..
    isi blog dan postinganya bagus, menarik dan bermanfaat sakali..:)
    jangan lupa untuk terus menulis menulis yaa sob..^_^

    oia salam kenal
    kalau berkenan silahkan mampir ke EPICENTRUM
    folloback juga ya buat nambah temen sesama blogger,,tukeran link juga boleh,,makasih..^_^

    ReplyDelete
  28. Awesome. Rangkaian kata-kata secantik ini harus di perlihatkan ke dunia!
    Saya terharu

    ReplyDelete
  29. makanya jangan suka ngurung capung di dalem toples, nggak enak kan rasanya?
    :p

    ReplyDelete

speak up!