Sebulan di penjara suci padang lampe
2 februari 2012 memasuki subuh, saya sudah terbangun dan di luar sedang hujan. Yah ini adalah pagi yang baru dan awal yang baik untuk memulai semuanya. Sebuah koper dengan tas ransel sudah siap menemani perjalananku. Deretan bus sudah menungguku dan mahasiswa lain subuh itu. Sekitar jam 7 pagi rombongan kelasku sudah berkumpul dan memasuki bus, raut wajah mereka bermacam-macam. Ada yang terlihat senang, gugup, malas, penuh tanya, dan ada juga yang begitu tenang.
Sepanjang perjalanan mataku hanya menerawang ke luar jendela memperhatikan hiruk pikuk kota di pagi hari. Beberapa jam kemudian semuanya berubah menjadi lebih hijau. Sawah dan bukit terlihat dari jendela kanan dan kiri bus. Saya selalu menikmati perjalan seperti ini. Walaupun di dalam bus riuh kawan-kawanku yang mendendangkan lagu sangat jelas di telinga, tetap saja terasa tenang dengan pemandangan seperti ini.
Dan setelah 2 jam perjalanan, akhirnya bus yang membawa kami tiba di pesantren Darul Mukhlisin.
Pesantren yang luasnya sekitar 50 hektar dikelilingi sawah, bukit, marmer dan pohon jeruk tak lupa juga beberapa pohon mangga. Tempat inilah yang akan menjadi tempat tinggal kami selama sebulan. Tempat yang asing, saya sedikit khawatir kalau nantinya tidak betah dan ingin pulang. Setelah turun dari bus saya langsung menuju ke pondok-pondok yang berjejer dengan rapi. Ada sebuah kertas bertuliskan 16 nama mahasiswa di depan pintu-pintu tiap kamar.
Pondok A kamar ketiga, nama saya tertulis disana. Ternyata tempat tidurnya bertingkat, dan saya langsung mengambil tempat tidur ditingkat atas. Saya sudah bisa memikirkan konsekuensi tidur di tingkat bawah. Saya sudah tahu kegilaan dan usilnya teman-teman kamarku. Dan rasanya kalau tidur diatas akan sedikit lebih aman dari kejahilan mereka saat saya tertidur pulas. Hanya berharap tidak ada balsem atau bedak yang menghiasi wajah ini saat bangun.Apa lagi kalau sekamar dengan Handry, Ajab, Abhi, Agung, dan Quspa. Susah tidur, dan rahang sakit karena kebanyakan ketawa tiap malam itu sudah biasa.
Hari 1-10
Kami mulai berkenalan dengan ustadz yang ada disini, kami biasa memanggilnya ayah dan bunda. Rata-rata ayah dan bunda disini lulusan dari kairo, Mesir. Bahkan wali kelas saya bunda Faridah lahirnya di mekkah. Subhanallah, menurut saya itu tempat kelahiran yang benar-benar something.
Kami sedang belajar membiasakan diri dengan suasana baru di pesantren. Bangun jam 3 untuk shalat tahajud sampai jam 5 dan dilanjutkan shalat subuh. Setelah shalat subuh santripun mulai berdzikir sampai matahari terbit dan dilanjutkan dengan shalat duha. Lalu menuju ke kelas masing-masing untuk sarapan.
Ada 14 kelas yang diisi rata-rata 30an santri. Kami dibagi tiga kelompok untuk tugas mengangkat baki dan perlengkapan makan ke kelas setiap pagi, siang, dan malam hari. Saya mendapat tugas pagi, masih ngantuk dan ingin cepat-cepat ke pondok untuk melanjutkan tidur. Satu baki porsinya untuk 4 orang, kadang ada juga baki yang cuma diisi 2 orang. Biasanya kami langsung menculik lauk pauknya sebagian kalau sedang kesurupan sama cacing di dalam perut.
Setelah sarapan kami kembali ke pondok, memanfaatkan waktu 1 jam untuk istirahat dan mencuci pakaian kotor. Sialnya saya ada di pondok yang kamar mandinya ada di luar kamar, jadi harus antri kalau mau mandi. Kalau tidak mau terjebak dengan antrian biasanya mandinya sangat pagi sekali, saat-saat dimana santri lain sedang ada di alam mimpinya. Jam 9 pagi materi sudah di mulai dengan mata kuliah Syariah, aqidah, al-qur’an terjemahan, dan akhlak. Tepat jam 12 materi selesai dan kamipun menuju ke mesjid untuk shalat duhur dilanjutkan membaca wirid dan satu surah. Kebiasaan di pesantren ini memang setiap shalat fardhu diwajibkan membaca sebuah surah. Kemudian setelah itu kembali ke pondok dan istirahat, mengangkat jemuran, nongkrong di kafe ( baca: warung ), dan tidur.
Saat ashar selesai kami bisa menikmati suasana disini, begitu tenang dan damai. Ada yang pergi bermain bola di lapangan rumput, main bulu tangkis di aula, badminton, takraw dan ada juga yang masih sempat menelpon kekasihnya yang jauh di kota. Saya sedang bersemangat main bola, entah hiburan apa lagi yang bisa saya nikmati disini selain olahraga ini. Setelah keringat bercucuran kami antri lagi untuk mandi. Antrian mandi di sore hari itu benar-benar bikin kaki pegal. Untungnya kami para pria punya cara sendiri keluar dari antrian dan menikmati mandi sore. Mandi di dekat sawah memakai selang air yang seenak jidat dibuka tutup. Kami mandi seperti sapi yang disiram seorang peternak, benar-benar gila dan kacau.
Setelah maghrib, seperti biasa tiap kelas membuat khalakah kemudian membaca wirid dan Yasiin yang dilanjutkan dengan dzikir sampai adzan isya dikumandangkan. Setelah Isya kami kembali ke kelas untuk makan malam dan mengikuti materi praktek tentang hafalan surah pendek, doa sehari-hari, dan bacaan shalat. Jam 10 semua kegiatan sudah selesai, kami bisa kembali ke kamar masing-masing.
Biasanya saya berniat langsung tidur kalau sudah sampai di kamar, tapi tidak pernah berhasil. Anak-anak selalu mengeluarkan senjata andalannya tiap ada di kamar. Cemilan ! Siapa yang bisa menolak godaan cemilan disaat-saat seperti ini? Ya saya benar-benar tidak enak hati kalau tidak ikut gabung, atau mungkin saya yang out of control tiap melihat makanan. Apa lagi ditambah dengan perbicangan gila dengan teman kamar, sempurnalah begadang konyol di tempat ini. Tidur jam 12 dan bangun jam 3, entah sampai kapan saya bisa bertahan kalau seperti ini terus.
Hari 11-20
Ini adalah masa-masa dimana persediaan makanan yang dibawa di dalam koper menipis karena tidak terkontrol dengan baik. Ini adalah masa-masa yang bisa saya sebut dengan galau. Ini adalah masa-masa dimana kerinduan akan rumah mulai terasa, makanan rumah dan tentu saja orang tua. Saya mulai terbiasa dengan gedoran pintuh dari ayah-ayah yang membangunkan kami jam 3 pagi. Dengan bintang-bintang yang terlihat lebih banyak dari biasanya.
Ternyata subuh adalah waktu yang sangat intim dan nyaman untuk bercengkrama dengan Allah. Kesunyiannya tak terkalahkan waktu yang lain. Saya baru merasakan keintiman subuh seperti ini, hanya suara-suara jangkrik yang menemani perjalanan menuju ke mesjid.
Hadist-hadist teladan yang dibacakan setiap selesai shalat fardhu mulai terbiasa di telinga, tak ada lagi gumaman “Ayah mau kembali ke kamar, mau tidur.” Semuanya sudah mulai terbiasa kecuali orang-orang yang hatinya membatu. Ada juga orang seperti itu, kerjanya hanya makan dan tidur. Wataknya masih buruk sama seperti hari-hari biasa di kampus, harta dan wanita jadi bahan omongannya tiap hari. Kalau waktu shalat selalu mengulur waktu dan sengaja terlambat datang ke mesjid supaya tidak shalat sunnah. Yah sebenarnya Allah tidak memilih-memilih dalam memberikan hidayah, hanya saja kadang kita manusia terlalu angkuh membuka diri kepada-Nya. Semoga Allah melunakkan hati yang membatu.
Di depan kamar saya ada sebuah pohon mangga yang besar. Kalau kata orang-orang disini, pohon mangga itu ada penghuninya. Tak jarang ada penampakan disana. Yang lucunya lagi, kalau kita melihat ke atas pohon mangga ini buahnya sedikit, bahkan hampir tak ada. Tapi entah kenapa selalu saja ada buah mangga yang jatuh tiap hari. Teman saya selalu memunguti mangga-mangga ini tiap pagi, dan membawanya kamar dan kami makan ramai-ramai. Pohon mangga yang baik menurut saya.
Dan iya, minggu ini adalah masa-masa dimana kita mengenali diri sendiri. Shalat taubat dan mengenang dosa-dosa yang pernah kita lakukan, menyesalinya, menangisi dan berjanji tak akan pernah melakukannya lagi. Santri disini sudah tidak sungkan menangis di dalam mesjid saat mengingat dosa yang pernah diperbuatnya selama ini. Apa yang membuatmu malu menangis di hadapan Allah ? Tidak ada. Iya kami pria juga bisa menangis,dan itu bukan sebuah kelemahan seperti anggapan sebagian orang selama ini. Itu hal manusiawi yang memanusiakan kita.
Hari 21-end.
Perlombaan Asma’ul Husna antar kelas sudah diumumkan. Kelasku aneh, kelas lain sudah latihan dengan intensif tapi kami sama sekali belum memulai apa-apa. Semuanya cuek, dan hanya memikirkan diri sendiri. Sampai ada seseorang yang bilang “ Ini bukan untuk kita, tapi untuk ayah Ilyas dan bunda Faridah wali kelas kita, jangan bikin malu yang penting kita tampil dulu.” Semuanya mulai sadar dan memulai latihan H-2 sebelum hari perlombaan. Yang harus dibawakan saat perlombaan nanti adalah Asmaul husna, shalawat, dan kemudian lagu pilihan. Kami mulai menghafal lagu pilihan yang sudah disetujui forum kelas, lagunya Haddad Alwi yang berjudul rindu Muhammadku.
Mulai dari koreografi dan liriknya kami pikirkan di kamar setelah shalat Ashar. Kamar yang sebenarnya untuk tempat istirahat sekarang menjadi ruang rapat dan latihan dadakan. Sampailah pada hari H-nya, dan kami mendapat no.14, itu berarti tampil paling akhir. Aula sudah mulai bising dengan penampilan-penampilan yang membuat kelas kami menjadi minder. Kami keluar dari aula untuk mencari ruangan kosong, dan sekali lagi kami latihan. Mengatur koreo yang kacau dan menambahkan hentakan jari dibeberapa lirik.
“Ingat ini untuk Ayah dan bunda, jangan bikin malu.”
Dan akhirnya kamipun tampil beberapa menit sebelum shalat duhur. Anak-anak mulai memasuki panggung dengan 3 barisan yang tersusun rapi seperti yang sudah disepakati.
“Subhanallah….” Barisan pertama duduk tahiyat.
“Alhamdulillah….” Barisan kedua duduk dengan bertumpu pada lutut.
“Wala ilaha illallah…..” Barisanku tetap tegar berdiri dan melangkah sedikit kedepan.
“ALLAHU AKBAR !!” semuanya serentak mengangkat tangan kanan ke atas, dan kamipun memulainya.
Nasyid hari itu berjalan dengan lancar walaupun sempat terjadi cekcok dan kekacauan karena beberapa orang yang tidak sepaham saat latihan. Semuanya hanya untuk penampilan hari itu, apapun hasilnya nanti yang jelas kami sudah tampil disaksikan oleh Ayah dan bunda.
Pagi itu setelah shalat duha, kami mencium tangan mereka. Salam perpisahan, ucapan terimakasih, permintaan maaf, dan doa agar kami bisa menghadapi dunia luar. Entah dari 400 mahasiswa ini siapa yang akan bertahan sampai akhir hayat dengan ilmu yang diterimanya disini.
Pesan dari ayah “ Kalau tidak bisa dikerjakan semuanya, jangan ditinggalkan semuanya apa lagi shalat.”
Sepanjang perjalanan mataku hanya menerawang ke luar jendela memperhatikan hiruk pikuk kota di pagi hari. Beberapa jam kemudian semuanya berubah menjadi lebih hijau. Sawah dan bukit terlihat dari jendela kanan dan kiri bus. Saya selalu menikmati perjalan seperti ini. Walaupun di dalam bus riuh kawan-kawanku yang mendendangkan lagu sangat jelas di telinga, tetap saja terasa tenang dengan pemandangan seperti ini.
Dan setelah 2 jam perjalanan, akhirnya bus yang membawa kami tiba di pesantren Darul Mukhlisin.
Pesantren yang luasnya sekitar 50 hektar dikelilingi sawah, bukit, marmer dan pohon jeruk tak lupa juga beberapa pohon mangga. Tempat inilah yang akan menjadi tempat tinggal kami selama sebulan. Tempat yang asing, saya sedikit khawatir kalau nantinya tidak betah dan ingin pulang. Setelah turun dari bus saya langsung menuju ke pondok-pondok yang berjejer dengan rapi. Ada sebuah kertas bertuliskan 16 nama mahasiswa di depan pintu-pintu tiap kamar.
![]() |
pondokan yang berjejer |
Hari 1-10
Kami mulai berkenalan dengan ustadz yang ada disini, kami biasa memanggilnya ayah dan bunda. Rata-rata ayah dan bunda disini lulusan dari kairo, Mesir. Bahkan wali kelas saya bunda Faridah lahirnya di mekkah. Subhanallah, menurut saya itu tempat kelahiran yang benar-benar something.
Kami sedang belajar membiasakan diri dengan suasana baru di pesantren. Bangun jam 3 untuk shalat tahajud sampai jam 5 dan dilanjutkan shalat subuh. Setelah shalat subuh santripun mulai berdzikir sampai matahari terbit dan dilanjutkan dengan shalat duha. Lalu menuju ke kelas masing-masing untuk sarapan.
Ada 14 kelas yang diisi rata-rata 30an santri. Kami dibagi tiga kelompok untuk tugas mengangkat baki dan perlengkapan makan ke kelas setiap pagi, siang, dan malam hari. Saya mendapat tugas pagi, masih ngantuk dan ingin cepat-cepat ke pondok untuk melanjutkan tidur. Satu baki porsinya untuk 4 orang, kadang ada juga baki yang cuma diisi 2 orang. Biasanya kami langsung menculik lauk pauknya sebagian kalau sedang kesurupan sama cacing di dalam perut.
Setelah sarapan kami kembali ke pondok, memanfaatkan waktu 1 jam untuk istirahat dan mencuci pakaian kotor. Sialnya saya ada di pondok yang kamar mandinya ada di luar kamar, jadi harus antri kalau mau mandi. Kalau tidak mau terjebak dengan antrian biasanya mandinya sangat pagi sekali, saat-saat dimana santri lain sedang ada di alam mimpinya. Jam 9 pagi materi sudah di mulai dengan mata kuliah Syariah, aqidah, al-qur’an terjemahan, dan akhlak. Tepat jam 12 materi selesai dan kamipun menuju ke mesjid untuk shalat duhur dilanjutkan membaca wirid dan satu surah. Kebiasaan di pesantren ini memang setiap shalat fardhu diwajibkan membaca sebuah surah. Kemudian setelah itu kembali ke pondok dan istirahat, mengangkat jemuran, nongkrong di kafe ( baca: warung ), dan tidur.
![]() |
depan kamar langsung keliatan jemuran dan pemandangan bukit |
Setelah maghrib, seperti biasa tiap kelas membuat khalakah kemudian membaca wirid dan Yasiin yang dilanjutkan dengan dzikir sampai adzan isya dikumandangkan. Setelah Isya kami kembali ke kelas untuk makan malam dan mengikuti materi praktek tentang hafalan surah pendek, doa sehari-hari, dan bacaan shalat. Jam 10 semua kegiatan sudah selesai, kami bisa kembali ke kamar masing-masing.
Biasanya saya berniat langsung tidur kalau sudah sampai di kamar, tapi tidak pernah berhasil. Anak-anak selalu mengeluarkan senjata andalannya tiap ada di kamar. Cemilan ! Siapa yang bisa menolak godaan cemilan disaat-saat seperti ini? Ya saya benar-benar tidak enak hati kalau tidak ikut gabung, atau mungkin saya yang out of control tiap melihat makanan. Apa lagi ditambah dengan perbicangan gila dengan teman kamar, sempurnalah begadang konyol di tempat ini. Tidur jam 12 dan bangun jam 3, entah sampai kapan saya bisa bertahan kalau seperti ini terus.
Hari 11-20
Ini adalah masa-masa dimana persediaan makanan yang dibawa di dalam koper menipis karena tidak terkontrol dengan baik. Ini adalah masa-masa yang bisa saya sebut dengan galau. Ini adalah masa-masa dimana kerinduan akan rumah mulai terasa, makanan rumah dan tentu saja orang tua. Saya mulai terbiasa dengan gedoran pintuh dari ayah-ayah yang membangunkan kami jam 3 pagi. Dengan bintang-bintang yang terlihat lebih banyak dari biasanya.
Ternyata subuh adalah waktu yang sangat intim dan nyaman untuk bercengkrama dengan Allah. Kesunyiannya tak terkalahkan waktu yang lain. Saya baru merasakan keintiman subuh seperti ini, hanya suara-suara jangkrik yang menemani perjalanan menuju ke mesjid.
Hadist-hadist teladan yang dibacakan setiap selesai shalat fardhu mulai terbiasa di telinga, tak ada lagi gumaman “Ayah mau kembali ke kamar, mau tidur.” Semuanya sudah mulai terbiasa kecuali orang-orang yang hatinya membatu. Ada juga orang seperti itu, kerjanya hanya makan dan tidur. Wataknya masih buruk sama seperti hari-hari biasa di kampus, harta dan wanita jadi bahan omongannya tiap hari. Kalau waktu shalat selalu mengulur waktu dan sengaja terlambat datang ke mesjid supaya tidak shalat sunnah. Yah sebenarnya Allah tidak memilih-memilih dalam memberikan hidayah, hanya saja kadang kita manusia terlalu angkuh membuka diri kepada-Nya. Semoga Allah melunakkan hati yang membatu.
Di depan kamar saya ada sebuah pohon mangga yang besar. Kalau kata orang-orang disini, pohon mangga itu ada penghuninya. Tak jarang ada penampakan disana. Yang lucunya lagi, kalau kita melihat ke atas pohon mangga ini buahnya sedikit, bahkan hampir tak ada. Tapi entah kenapa selalu saja ada buah mangga yang jatuh tiap hari. Teman saya selalu memunguti mangga-mangga ini tiap pagi, dan membawanya kamar dan kami makan ramai-ramai. Pohon mangga yang baik menurut saya.
Dan iya, minggu ini adalah masa-masa dimana kita mengenali diri sendiri. Shalat taubat dan mengenang dosa-dosa yang pernah kita lakukan, menyesalinya, menangisi dan berjanji tak akan pernah melakukannya lagi. Santri disini sudah tidak sungkan menangis di dalam mesjid saat mengingat dosa yang pernah diperbuatnya selama ini. Apa yang membuatmu malu menangis di hadapan Allah ? Tidak ada. Iya kami pria juga bisa menangis,dan itu bukan sebuah kelemahan seperti anggapan sebagian orang selama ini. Itu hal manusiawi yang memanusiakan kita.
Hari 21-end.
Perlombaan Asma’ul Husna antar kelas sudah diumumkan. Kelasku aneh, kelas lain sudah latihan dengan intensif tapi kami sama sekali belum memulai apa-apa. Semuanya cuek, dan hanya memikirkan diri sendiri. Sampai ada seseorang yang bilang “ Ini bukan untuk kita, tapi untuk ayah Ilyas dan bunda Faridah wali kelas kita, jangan bikin malu yang penting kita tampil dulu.” Semuanya mulai sadar dan memulai latihan H-2 sebelum hari perlombaan. Yang harus dibawakan saat perlombaan nanti adalah Asmaul husna, shalawat, dan kemudian lagu pilihan. Kami mulai menghafal lagu pilihan yang sudah disetujui forum kelas, lagunya Haddad Alwi yang berjudul rindu Muhammadku.
Mulai dari koreografi dan liriknya kami pikirkan di kamar setelah shalat Ashar. Kamar yang sebenarnya untuk tempat istirahat sekarang menjadi ruang rapat dan latihan dadakan. Sampailah pada hari H-nya, dan kami mendapat no.14, itu berarti tampil paling akhir. Aula sudah mulai bising dengan penampilan-penampilan yang membuat kelas kami menjadi minder. Kami keluar dari aula untuk mencari ruangan kosong, dan sekali lagi kami latihan. Mengatur koreo yang kacau dan menambahkan hentakan jari dibeberapa lirik.
“Ingat ini untuk Ayah dan bunda, jangan bikin malu.”
Dan akhirnya kamipun tampil beberapa menit sebelum shalat duhur. Anak-anak mulai memasuki panggung dengan 3 barisan yang tersusun rapi seperti yang sudah disepakati.
“Subhanallah….” Barisan pertama duduk tahiyat.
“Alhamdulillah….” Barisan kedua duduk dengan bertumpu pada lutut.
“Wala ilaha illallah…..” Barisanku tetap tegar berdiri dan melangkah sedikit kedepan.
“ALLAHU AKBAR !!” semuanya serentak mengangkat tangan kanan ke atas, dan kamipun memulainya.
![]() |
coba tebak saya ada dimana.hha |
***
![]() |
di kelas bersama dengan ayah Wahyu yang mengajar al-qur'an dan terjemahan |
Entah kenapa hari terakhir menjadi hari yang begitu dilematis. Antara ingin pulang dan menetap lebih lama disini. Ayah dan bunda yang begitu baik dan sabar dalam mendidik kami, tentu saja menjadi hal yang membuat orang-orang yang hatinya tidak membatu menjadi sangat sensitif hari itu. Ayah Ilyas yang dengan kesederhanaan dan pengertian yang begitu tinggi. Bunda Faridah yang galak dan tegurannya memberi pelajaran, yang kata-katanya sarat akan makna yang terukir dalam. Ayah Ahmad, ayah Rahim, Ayah Wahyu dan semua ayah bunda yang tak bisa ku tuliskan disini. Semuanya punya kesan tersendiri di dalam hati.
Pagi itu setelah shalat duha, kami mencium tangan mereka. Salam perpisahan, ucapan terimakasih, permintaan maaf, dan doa agar kami bisa menghadapi dunia luar. Entah dari 400 mahasiswa ini siapa yang akan bertahan sampai akhir hayat dengan ilmu yang diterimanya disini.
Pesan dari ayah “ Kalau tidak bisa dikerjakan semuanya, jangan ditinggalkan semuanya apa lagi shalat.”
"Ayah bunda, lihatkan kami juara satu. . ."
Ini catatan khusus untukku agar selalu bisa mengingatnya lagi.
Dari Abu Hurairah r.a. berkata: Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda, Bagaimanakah pendapatmu seumpama ada sebuah sungai di muka pintu salah seorang dari kamu, lalu ia mandi daripadanya setiap hari lima kali, apakah masih ada tertinggal kotorannya?” Para sahabat menjawab, “Tidak.” Nabi saw bersabda, “Maka demikianlah shalat lima waktu, Allah akan menghapuskan dosa-dosa dengannya.” ( HR.Bukhari – Muslim )
Waw! Sepertinya menyenangkan sekali. :) Jadi ingin ke tempat itu juga. Di alam dan tenang.
ReplyDeletehaha memang menyenangkan :)
Deletesemoga..
wah... mantaaaap... ^_^
ReplyDeleteSeruuuu.... jadi ingat waktu pesantren kilat dulu..he he
Oh kak lara anak pesantrenan juga toh :D
Deleteitu mah bukan penjara....
ReplyDeletetapi kawah condrodimuka....
:)
hha iya :D
Deletebtw condrodimuka itu apaan yak =="
subhanallah...bisa dibayangkan apa yg sudah didapatkan selama sebulan itu...ustadz uchank nanti ceramah ya di kopdar bloof makassar...dukung deh...
ReplyDeleteHha bisa aja nih mas nit.
Deletebelum cukup umur. eh ilmu juga ding :D
Subhanallah.. Semoga tetap istiqamah ya chank.. :)
ReplyDeleteamin kak :D
Deletehabis baca rasanya, "waw! saya pengen bisa seperti itu!"
ReplyDeleteseru :)
Amin amin..
Deletesemoga ad kesempatan :)
asyik ya mas Uchank.. alam sama ilmunya keren
ReplyDeletehha :D
Deletetempatnya memang enak.
hmm kira2 sanggup gak ya klo di tempat sesepi itu 1bulan penuh ?
ReplyDeletetapi cuma buat mahasiswa ya? :(
gantian mbak tiap bulan.
Deleteada mahasiswa ada mahasiswi..
semoga bisa mengamalkan ilmu yg telah didapat.
ReplyDeleteamin kang...
Deleteadek uchank yang baik, alhamdulillah sudah diberi kesempatan untuk mengikuti pesantren. jadi gimana rasa-rasanya setelah balik ke mks? semoga ilmu dari sana masih tersisa di kehidupan di kota ya..
ReplyDeleteeh, mau ka tebak: untuk gambar lomba asma'ul husna, uchank yang ada di barisan atas, kedua dari kiri. iya kan? kasi'ma hadiah na.. hahha
nyang poto bareng "ayah" kok uchank punya gaya kayak gitu sih? gak eye catching... wee.. :P
manna mo kak gak eye cacing atau eye catching atau apalah. yang penting mejeng dulu.hahaha
Deleteamin kak insyallah.
iya tebakannya tepat, pasti fans :p hha
adik hasan memang cakep tebakannya....wkwkk...
Deletekereeen.. :D
ReplyDeletejadi inget waktu sanlat sebulan di Daarut Tauhiid :)
wah sanlat :D
Deletebagi pengalamannya jg .hha
subhanallah..
ReplyDeletejadi karena ini Uchank menghilang?
hehhe..
jadi inget jaman-jaman di pondok dulu..
:D
iya mbak runa. menghilang dari peradaban...
Deletetulis juga dong.
waah subhanallah, agenda kopdaran minggu ini, denger ceramah dari ustad uccank deh...asikkk^^
ReplyDeletekak uti kak uti...
Deleteckckkckc
gak ada tampang ustadz ini ==" hha
amin deh.
subhanallah...ternayata alasan ini yg membuat uchank menghilang, smoga apa yg didapat bisa diamalkan dengan baik..tnggal dipesnatren itu pasti menyenangkan :)
ReplyDeleteAmin kak tia...
Deleteiya sangat sangat...ahh susah diungkapkan.hha
you know chank, dhe paling suka dengan kalimat ini "Yah sebenarnya Allah tidak memilih-memilih dalam memberikan hidayah, hanya saja kadang kita manusia terlalu angkuh membuka diri kepada-Nya. Semoga Allah melunakkan hati yang membatu.".. hmm, semoga kita termasuk hambaNya yang selalu mendapatkan hidayah tersebut.. secepatnya, kau pasti akan merindukan masa-masa indah di pesantren itu chank.. :)
ReplyDeleteini baru beberapa hari aja udah kangen sama suasana pesantren.hha
Deleteiya saling mengingatkan dhe :)
ay..ay,, suasananya asiik..
ReplyDeletemau masuuk pesantreen #eeh?
masa cm gra2 suasananya hha
Deletesepertinya tempat ini selalu menenangkan ...
ReplyDeletedengar cerita dari teman2 yang pernah pesantren di padanglampe, semuanya pasti berkesan ...
subhanallah...
hahaha bener mbak unni ":D
DeleteSubahanallah... indahnya kebersamaan :), pastii elo bakal kangen sama suasana disana Chank ^_^
ReplyDeleteselamat ya... juara satu padahal persiapannnya H-2
hahaha together we can. iyalah gimana gak kangen :D
Deletealhamdulillah... kalau mau sungguh-sungguh insyAllah :)
your post is nice.. :)
ReplyDeletekeep share yaa, ^^
di tunggu postingan-postingan yang lainnya..
jangan lupa juga kunjungi website dunia bola kami..
terima kasih.. :)
Wah kok error yah =="
Deletegak bisa kebuka.
wew... nice journey chank
ReplyDeletebtw, sepertinya ini blog brubah yah... lebih dewasa ndak adami gambar karikatur anak sma yg senderan :p
Deletehha oh yah ?
Deletegambarnya disembunyiin..
bannernya namanya mbak :D
postingan yang sangat menarik :)
ReplyDeletesangat bermanfaat.. ^_^
keep posting yaa..
ingin barang bekas lebih bermanfaat ?
kunjungi website kami, dan mari kita beramal bersama.. :)
Begitu berkesan, yah! Oh iya, mangganya nggak apa-apa tuh dimakan, digangguin penunggunya gimana tuh? Hehe
ReplyDeleteKalau ngomongin pesantren jadi inget buku N5M.
Salam kenal, ya! Aku tunggu kunjungan baliknya :)
haha iya gpp kok mangganya. gak ada yang sakit perut atau kesurupan gara2 mangga.
Deleteoke salam kenal :D
Wow. Mantap.
ReplyDeleteItu kisah-kisahnya sudah kayak kisah negeri 5 menara ya? Haha.
hha ndak ji, ini cuma sebulan soalnya..hha
Deleteawe to the some. Nothing is more beautiful than muslim fellowship. Keep the ukhuwah :D
ReplyDeleteSip. insyAllah :D
Deletemana kisah kesurupannya, chan ? *ciyee sok akrab* haha..
ReplyDeletehaha. ada ji cerita kesurupannya.
Deletetapi masa sy kasih masuk.hha *okeh akrab*
subhanawllah..
ReplyDeletebaca ini blog jadi teringat sesuatu.. makash ya kak :)
semoga ilmu yg telah di dapatkan selalu bermanfaat aamiin
hha iya terimakasih kembali mbak.
Deleteamin amin insyAllah.
Pasti kamu mendapat banyak pengalaman ya
ReplyDeletekalau bisa selalu terbawa rajin ibadahnya sampai dirumah :) jgn sampai rumah terus lupa :P
InsyAllah mbak.hha
Deletekegiatan yang menyenangkan. dlu aku pernah outbond yg pake nginep juga. g terlupakan kenangannya, ...
ReplyDeletehha selalu ada cerita yang menarik dibalik petualangan ya mas :D
Deletewah uchank anak pesantren! assalamualaikum! <<< langsung sok imut
ReplyDeleteWaalaikumsalam mbak annesya :D
Deleteehek ehek... *ketawaaneh*
Deletetakut dibacain ayat kursi... bisa kebakar saya... hahaha
ohhh masyaAllah.. jadi ini alasan ketidakadaanmu chank ^^
ReplyDeletehohohoho super keren deh--
btw, tampilan baru
serasa dewasa dan cool sekali #nah loh
hha iya kak.
Deleteyah kalau kak maya sudah bilang begitu okelah, ndak diganti lagi.hahaa
berkah pesantren nih kayaknya :D
Deletesukses selalu chank!
akhirnya kembali dengan banyak hal yang diceritakan,,,
ReplyDeletesubhanallah,,
semakin keren.
headernya :P
bisa digoyang2 :D
Hha iya kang.
Deleteckckck suka dangdutan pasti nih :p hha
wah bagus banget tuh program 'karantina' semacam itu, pulang-pulang masih terbiasa. anyway dalam rangka apaan sih?
ReplyDeleteini program kuliah emang. hha wajib mbak :D
Deletetinggal rame2 ato yg berbau2 asrama mmg seru. setiap org benar2 kelihatan belangnya. yg malas, yg gokil, pemarah, semua dah. pasti asyiklaahh.. apalgi pemandanannya fresh gitu. bikin jauh dri setress.
ReplyDeletekak acci pasti lebih tau, soalnya dah lama merantau :D
Deletewahh panagalaman yang memberikan pengalaman dan pengetahuan...
ReplyDeletesalam bahagia dan follow juga ya
Revolusi galau
yap yap.
Deletesalam balik. oke masbro
Foto di panggung itu Uchank berdiri paling belakang nomer dua dari kiri!!! :D
ReplyDeleteSeru sekaliiiii yaa rasanyaa. Pasti mendapatkan banyak pelajaran selama disana,. bagi bagi ya ilmu nya Uchank.
Eniwey,.. ini program kuliah kahh???
hha tebakannya nyontek atau emang fans sy nih?
Deletehhaha
iya alhamdulillah pasti banyak.
ini program kuliah wajib buat sluruh mahasiswa di kampus sy mbak rie.tanpa terkecuali sm dosen dan pegawai.
wah kren. . . .. . kunjungsn mslem. . . da orangnya ndak ya. .. . :)
ReplyDeletewah, mondok ya chank?? pasti seru :D
ReplyDeleteWah,,rupanya ucank ilang krn lg di pesantren ya?
ReplyDeletehehhe kirain ilang kmn..
kalo rindu,ya dtg lagi :)
terbayang nikmat-nya dalam penjara suci..waktu sebulan terasa begitu singkat :)
ReplyDeletepostingannya bagus...
ReplyDeleteudah gue pasang banner loe di blog gue, basang banner gue juga ya... salam kenal http://abortusjahilius.blogdetik.com/ :)
Kangenx padlam :(
ReplyDeleteHmm , Teringat kembali dgn Suasana padang Lampe yang luar biasa :-)
ReplyDelete