Posts

Showing posts with the label piece of mind

Hei, smile.

Image
Kita tentu saja sudah sering melihat orang-orang tersenyum. Kebanyakan dari mereka selalu berhasil membuat kita membalas senyumnya. Seperti terkena sihir. Kita pun tiba-tiba saja tersenyum. Tanpa alasan yang jelas. Tanpa tahu kenapa melakukan itu. Bahkan tak jarang juga kita melakukannya pada orang yang tak dikenal. Lalu saya kemudian berpikir, bahwa kalau ada hal sederhana yang bisa mendekatkan semua orang di dunia ini, mungkin itu senyuman. Saya tak peduli apakah itu senyum yang dibuat-buat atau tidak. Saya juga tak ingin ambil pusing tentang adanya senyum yang berlabel made in china . Saya masih terlalu muda untuk berpikir hal rumit semacam itu. Anggap saja saya ini orang yang naif. Menganggap bahwa senyuman itu tak pernah punya tendensi   melukai, tetapi menyembuhkan. Kita bahkan tak pernah tahu dampak dari sebuah senyuman untuk orang lain. Senyum juga refleksi dari jiwa yang tabah. Maksud saya, tiap orang pasti punya masalah. Mau besar atau kecil, tetap saja nama...

perempuan pertama

Image
Ini bukan jatuh cinta pada pandangan pertama. Sungguh, aku sudah memiliki perasaan ini jauh hari sebelum kita bertemu. Engkau yang matanya menggugah semesta dalam air bah kesedihan. Engkau yang di dahinya mengalir sungai-sungai tandus yang mengukir seribu macam kisah. Engkau yang helai rambutnya berguguran bak lembaran daun yang menguning di musim kemarau. Aku tak tahu harus melakukan apa semenjak kali pertama kita bertemu. Aku tak sadar waktu itu, aku belum mengerti apa-apa. Katanya, saking bahagianya bertemu denganmu, aku sampai menangis dan memelukmu begitu erat. Orang-orang dengan seragamnya yang berbau khas sedang memperhatikan kita. Mereka tersenyum. Aku tak peduli dan tak mau tahu apa itu peduli. Aku hanya tahu, semenjak hari itu aku membutuhkanmu. Bahkan, aku tak mengerti apa itu butuh. Engkau adalah duniaku. Poros bagi segala kehidupan yang telah engkau pinjamkan atas izin-Nya. Jangan kemana-mana, tetaplah bersama kami. Lihatlah dulu anak-anakmu ini menjadi ...

hai

Image
Hai, kamu. Yang segaris senyumnya selalu menjelma semangkuk antik, tentu saja bukan salah satu koleksi kesayangan ibuku. Karena lengkung bibirmu senilai angka delapan yang terbaring. Hai, kamu. Yang suaranya seperti debar hujan di musim kemarau, tentu saja bunyinya lain dengan tik tik yang jatuh di dalam parit. Karena gema suaramu mendesau lembut ke palung hati. Hai, kamu. Yang kedua bola matanya adalah tempat paling teduh di dunia, tentu saja setelah rahim dari seorang ibu. Karena matamu adalah rumah dari segala aku. Hai, kamu. Yang masih menjadi rahasia manis dari semesta, tentu saja perasaanmu bukan sebongkah gula dalam cangkirku. Karena semesta adalah ibu yang melahirkan setiap rasa. pict from here

semacam itu sajalah

Image
Rindu adalah badut yang bermain di sebuah karnaval dengan gembira.  Ia tak pernah tahu seberapa lucunya atau semenakutkan apa dirinya sendiri. Bagaimana hidung bulat merahnya itu membuatmu tertawa,  atau senyum dingin dengan garis merah yang lebar itu menyeringai: seperti joker.  Tapi ia adalah rindu yang kita tunggu-tunggu.  Apakah kau akan tesenyum atau murung karenanya, akupun masih bertanya-tanya. *** Take me where I've never been Help me on my feet again Show me that good things come to those who wait...