Pages

bus stop

16 July, 2013




Saya tahu ini bukan pertama kalinya perasaan semacam itu merasuki kita. Tapi saya merasakannya seolah semuanya baru pertama kali. Hari yang malas. Kaki yang enggan kemana-mana. Ruang tamu, cerita absurd dan rahasia-rahasia dibongkar muat dengan senang hati. Tak ada yang lebih nyaman dari menjadi dirimu sendiri.

Seolah saja matamu yang sungai itu selalu menghanyutkan segala ragu menjauh. Sejak pertama kali melihatnya, saya mulai sadar. Walau matahari membeku suatu ketika, matamu bisa hadir sebagai hangat yang lain. Hal-hal baik di dunia memang tak pernah berhenti. Tak pernah benar-benar berhenti. Walaupun penderitaan juga tak pernah. Terasa sama saja. Harusnya kita bisa menikmati keduanya dengan jalan yang sama. Tapi terkadang saya hanya terlalu kalut untuk menentukan jalan.

Kau tahu, saya merasa kita pernah ada di bus yang sama dengan jurusan yang sama. Tapi sayangnya kita berhenti di halte yang berbeda. Tiap orang sepertinya punya takdirnya untuk berhenti di mana, akan kemana dan ingin melakukan apa setelah turun dari bus. Sedang saya tak tahu ingin berhenti di mana setelah bus ini bosan mengantar. Mungkin karena saya orang yang terlalu menikmati setiap perjalanan sampai lupa menentukan tujuan. Mungkin juga karena saya merasa perjalanan seperti itu adalah tujuan saya.

O, hidup ini memang selalu penuh dengan kemungkinan-kemungkinan lain.

Saya masih berharap. Suatu hari ada seseorang yang naik di bus itu. Duduk di sebelah saya dan menemani saya melewati jalan-jalan asing. Tak perlu bercerita. Tak perlu melucu. Bahkan tak perlu kata-kata. Bukankah keberadaan lebih penting daripada perhatian yang dibuat-buat? Saya rasa, itu gunanya tuhan memberi kita bahu. Tapi kalau kau memaksa melakukan sesuatu. Tak mengapa, kau boleh tersenyum. Karena senyum juga bahagia dan getir yang digaris menjadi satu.

 pict from here

15 comments:

  1. Mungkin suatu saat saya akan bosan melihat samudra dan memutuskan untuk turun dari kapal saya dan menaiki bus yang sedang kamu naiki, mungkin~

    ReplyDelete
    Replies
    1. baiklah. saya menunggu hari yang bosan itu dwi.

      Delete
  2. Mas, biarkan aku yang akan menemani dalam setiap perjalanamu di samping kursimu heheheee,,,,,,
    Cie berharap ada yang duduk di samping kursinya....

    ReplyDelete
    Replies
    1. hha duduk sendirian itu membosankan kang.

      Delete
  3. Saya sukkaaa...
    pernah juga ngalamin yang di paragraph pertama

    ReplyDelete
  4. ah mau menikmati perjalanannya saja, mungkin nanti ada juga penumpang yang turun, tinggal, dan menetap di arah yang sama :D

    ReplyDelete
  5. nice story.. ^^
    keren .. keren..

    ReplyDelete

speak up!